Makna Halal Bihalal dalam Hari Raya Idul Fitri di Indonesia

Makna Halal Bihalal dalam Hari Raya Idul Fitri di Indonesia
Selamat Idul Fitri 1437 H

Selamat Idul Fitri 1437 H

Asal Usul Halal Bihalal

Seorang budayawan yang cukup mashur melakukan penelitian mengenai budaya yang ada di Indonesia tentang Halal Bi Halal dan budaya sungkeman yang notabene melekat dengan budaya Jawa.

Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.

Penyebaran agama Islam yang melibatkan sebagian besar masyarakat jawa dan awalnya sangat pesat di Jawa Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global.

Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan. Budaya timur tengah lebih menekankan pada keakraban yaitu dengan berpelukan namun tidak secara masal seperti jabat tangan yang ada di Indonesia.

Berdasarkan tuntunan ajaran Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera minta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah SWT lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (Alquran Surat Ali Imran ayat 134).

Budaya Sungkem

Dalam budaya Jawa, seseorang “sungkem” kepada orang yang lebih tua adalah suatu perbuatan yang terpuji dan ini merupakan bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua atau dituakan. Sungkem bukannya simbol kerendahan derajat, melainkan justru menunjukkan perilaku utama. Tujuan sungkem, pertama, adalah sebagai lambang penghormatan, dan kedua, sebagai permohonan maaf, atau “nyuwun ngapura”. Istilah “ngapura” tampaknya berasal dari bahasa Arab “ghafura”.

Para ulama di Jawa tampaknya ingin benar mewujudkan tujuan puasa Ramadan. Selain untuk meningkatkan iman dan takwa, juga mengharapkan agar dosa-dosanya di waktu yang lampau diampuni oleh Allah SWT. Seseorang yang merasa berdosa kepada Allah SWT bisa langsung mohon pengampunan kepada-Nya. Tetapi, apakah semua dosanya bisa terhapus jika dia masih bersalah kepada orang lain yang dia belum minta maaf kepada mereka?

Nah, di sinilah para ulama mempunyai ide, bahwa di hari Lebaran itu antara seorang dengan yang lain perlu saling memaafkan kesalahan masing-masing, yang kemudian dilaksanakan secara kolektif dalam bentuk halal bihalal. Jadi, disebut hari Lebaran, karena puasa telah lebar (selesai), dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus).

Dari uraian di muka dapat dimengerti, bahwa tradisi Lebaran berikut halal bihalal merupakan perpaduan antara unsur budaya Jawa dan budaya Islam. Sungguh baik maksud dan tujuan para ulama menggabungkan unsur budaya dan unsur agama menjadi satu sehingga satu sama lain tidak saling tumpang tindih.

Sejarah Halal Bihalal

Penggagas istilah “Halal Bihalal” ini adalah KH. Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII dan PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH. Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kyai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahmi, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi. Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”. “Itu gampang”, kata Kyai Wahab. “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah “Halal Bihalal”, jelas Kyai Wahab.

Dari saran Kyai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul “Halal Bihalal” dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal Bihalal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi, Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kyai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal Bihalal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

Sampai pada tahap ini, Halal Bihalal telah berfungsi sebagai media pertemuan dari segenap warga masyarakat. Dan dengan adanya acara saling memaafkan, maka hubungan antarmasyarakat menjadi lebih akrab dan penuh kekeluargaan.

Bagaimana Seharusnya Memaknai Idul Fitri di Indonesia? 

Karena Halal Bihalal mempunyai efek yang positif bagi kerukunan dan keakraban warga masyarakat, maka tradisi Halal Bihalal perlu dilestarikan dan dikembangkan. Lebih-lebih pada akhir-akhir ini di negeri kita sering terjadi konflik sosial yang disebabkan karena pertentangan kepentingan.

Merayakan hari Idul Fitri bukan semata-mata dimaknai sebagai hari khusus untuk saling bermaafan dan melunturkan tradisi didalamnya saja. Coba kita pahami apa yang seharusnya dapat kita lakukan di hari dimana manusia bisa saling berjabat dan merangkul, duduk bersama, meleburkan diri menjadi satu sebagai sebagai ummat Islam Indonesia, tanpa mengingat latar belakang perbedaan mereka. Bukankah ada hal baik yang bisa kita manfaatkan dalam kebersamaan ini.

Menjadi lebih baik dan maju pasti menjadi cita-cita seluruh rakyat Indonesia. Tetapi apa negara ini bisa benar-benar maju jika setiap rakyat hanya memikirkan kemajuan untuk diri mereka masing-masing.

Pergerakan ekonomi yang timpang, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mementingkan perut mereka saja.  Perkembangan pendidikan yang statis  hanya sebagai alasan memenuhi kewajiban wajib belajar tanpa ada jaminan penanaman nilai moral dan bakti. Politik kekuasaan hanya sebagai citra strata dan tameng yang bisa diperjualbelikan. Dan masih banyak hal yang bisa kita bicarakan untuk memecahkan masalah di negara ini. Alangkah baiknya jika kita menghilangkan kepentingan pribadi yang menjadi konflik terpecah belahnya bangsa tanpa ada kesadaran untuk memperbaikinya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, Idul Fitri merupakan puncak dari suatu metode pendidikan mental yang berlangsung selama satu bulan untuk mewujudkan profil manusia yang bersih lahir batin, memiliki kualitas religius yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan besar hati mengakui kesalahan dan saling memaafkan. Mampu memelihara hubungan silaturahmi sosial yang harmonis meski berbeda latar belakang. Walaupun pada hakekatnya, bermaafan dan bersilaturahmi seharusnya bisa selalu dilakukan diluar Hari Raya Idul Fitri.

Segenap keluarga Tukang Info mengucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H

Taqobalallahu Minna Wa Minkum

Minal Aidzin Walfaizin 

Mohon Maaf Lahir Batin

Tukanginfo.com 

 

Tentang InfoAdmin

Tukang Info, Indonesia First Map Directory