Masihkah Semarang Jadi Kota Merah?

Masihkah Semarang Jadi Kota Merah?
Masihkah Semarang Jadi Kota Merah?

Masihkah Semarang Jadi Kota Merah?

Infonesia, Seperti yang telah kita ketahui bahwa filosofi warna merah sering dikaitkan dengan warna amarah, api, dan kejahatan. Padahal ada makna lain pula pada warna merah yang perlu kita ketahui. Warna merah juga berarti keberanian, kekuatan, dan bersifat pantang menyerah. Dalam hal ini dengan kota Semarang yang sering disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan sejarah berdirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) yang peristiwanya dihubungkan dengan tewasnya para jendral besar Indonesia dan berdampak kesedihan mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Ya, dalam lambang partai tersebut memiliki warna dasar warna merah. Sehingga kota Semarang disebut pula Kota Merah.

Dengan dijulukinya Semarang sebagai kota merah, secara tidak langsung konotasi negatif ikut berimbas pada kota ini yang tidak bisa dihapus begitu saja. Salah satu contohnya adalah kisah tentang Lawang Sewu, yang terkenal sejak dulu sebagai bangunan peninggalan Belanda yang difungsikan sebagai benteng pertahanan dan tempat penjara pada masa penjajahan Jepang. Sehingga didalam cerita sejarahnya tersemat cerita-cerita mistis yang menimbulkan ketakutan dalam mempelajari bangunan bersejarah itu lebih dalam. Termasuk pada saat kunjungan langsung ke bangunan tersebut, pemandu wisata Lawang Sewu lebih senang menceritakan kejadian mistis yang konon sering dikaitkan dengan setiap bagian bangunan tersebut. Seperti ruang bawah tanah yang dulunya tempat pembantaian tahanan, sumur sebagai tempat pembuangan mayat, dan ritual pada hari tertentu yang dijadikan sebagai masa persembahan untuk roh halus.

Cerita yang mengandung hal mistis ini menjadikan sejarah yang kabur. Karena tidak dipaparkan fakta dan keilmuan yang jelas dibalik peristiwa yang terjadi sebenarnya. Nenek moyang kita tidak melewatkan satu hal pun untuk menjadikan segala hal sebagai mitos. Padahal mitos-mitos tersebut membuat nalar kita menjadi kerdil. Apakah mungkin kita bisa mudah percaya pada cerita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya? Seandainya manusia sadar untuk tidak terlalu percaya mitos, maka mereka dapat menemukan ilmu baru dibalik pengetahuan yang sebenarnya. Berubahnya sistem dan manajemen pengelolaan Lawang Sewu dari masyarakat lokal dikembalikan pada pemilik sebenarnya yaitu negara, dibawah naungan PT. Kereta Api Indonesia, merubah gambaran Lawang Sewu yang rusak selama ini. Bangunan Lawang Sewu sebagai bangunan cagar budaya dibersihkan dan diperbaiki kembali tatanannya. Pemandu tidak lagi dari masyarakat lokal yang sering disebut sebagai Pawang Lawang Sewu, melainkan dari petugas resmi dari PT. KAI yang berseragam dinas. Penjelasan yang dipaparkan lebih bersifat fakta sejarah dan keilmuan mengenai kontruksi bangunan. Para wisatawan tidak lagi merasa takut untuk berkunjung kapan saja terutama pada hari libur, sebagai salah satu tujuan wisata kota Semarang.

Semarang tidak adil jika masih dicitrakan sebagai kota merah hingga sekarang. Padahal terdapat sebutan lain yang positif dari kota ini yaitu Kota Atlas. Dapat kita bayangkan begitu luasnya potensi kota Semarang yang dapat kita tonjolkan sebagai ibu kota propinsi Jawa Tengah. Sebagai generasi muda yang cerdas dan menghargai sejarah, hendaknya kita torehkan kreatifitas dan inovasi untuk membangun dan memajukan kota Semarang lebih baik lagi. Ingatlah Tugu Muda sebagai saksi perjuangan kota Semarang, masih menjulang tegak. Marilah bersatu untuk maju, karena ini tangung jawab kita sebagai anak bangsa khususnya warga Semarang.

Salam dari kami Tukang Info untuk para Infonesia. Jadilah berguna untuk sesama terlebih bagi nusantara.

Tentang InfoAdmin

Tukang Info, Indonesia First Map Directory