Pak Suwardi, Pejuang Tenun Tradisional di Tengah Kemajuan Teknologi

Pak Suwardi, Pejuang Tenun Tradisional di Tengah Kemajuan Teknologi
Pak Suwardi, Pejuang Tenun Tradisional di Tengah Kemajuan Teknologi

Pak Suwardi, Pejuang Tenun Tradisional di Tengah Kemajuan Teknologi

Tenun babut,merupakan budaya yang terlahir di kota batik Pekalongan,tangan-tangan terampil para pengrajin nya menghasilkan karya yang berhasil diakui dunia. Pak Abdurohman salah satunya,yang mengaku bahwa hasil karya tenun nya sudah sampai di beberapa negara seperti Taiwan dan Belanda. Kakek 72 tahun tersebut bahkan menuturkan jika UNESCO menyimpan sebuah film dokumentasi proses pembuatan tenun dari tahap yang paling awal,dan salah satunya adalah karya beliau. Namun masa kejayaan tenun tradisional di Pekalongan sudah usai,karena saat ini hanya tersisa segelintir orang yang masih mengerjakan kerajinan tersebut.

“Yaa sekarang bisa di hitung pake jari mas,di desa Krapyak aja tinggal saya,pak suwardi,sama satu lagi teman saya” jelas pak Abdurohman saat diwawancarai di Gor Jetayu dalam acara Pekan Batik Pekalongan 2017. Menurut pak Suwardi,yang juga sudah 45 tahun menjadi pengrajin tenun tradisional di desa nya itu menjelaskan bahwa kejayaan tenun tradisional habis pada tahun 90an saat banyak orang mulai beralih ke Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM),dan semenjak itu pula harga tenun tradisional anjlog total dan perlahan mulai hilang dari pasaran,
Beliau pun mengatakan bahwa alat yang dimilikinya adalah buatan sendiri dan menjadi satu-satunya di Pekalongan saat ini. “Ini aja saya bikin dadakan mas karna ada event pekan batik pekalongan,bahannya juga dari kayu-kayu bekas,benang nya juga sama yang sisa-sisa dulu” tuturnya.

Dalam event Pekan Batik Pekalongan 2017 tersebut beliau menunjukkan cara membuat tenun tradisional kepada para pengunjung dengan alat tradisional nan sederhana nya itu, “tadi pagi sempat laku mas satu,tapi ya harganya cuma lima puluh ribu aja,itu pun udah bersyukur banget saya laku segitu” katanya. Karena semenjak para pengrajin tenun beralih ke ATBM,harga hasil tenun tradisional hanya berkisar di angka Rp.25.000 s/d Rp.50.000 saja. Beliau berharap pemerintah bisa melestarikan budaya yang sudah pudar ini, “kalo boleh bilang sih ada harapan untuk pemerintah melestarikan lagi tenun tradisional ini mas,saya siap untuk mengajarkan adik-adik semua untuk belajar membuat karya seperti ini” katanya dengan semangat.
Foto&teks:Tubagus Andri M

Tentang InfoAdmin

Tukang Info, Indonesia First Map Directory