Pentas Teater Kaplink Bunga Terakhir dan Manajemen Penonton

Pentas Teater Kaplink Bunga Terakhir dan Manajemen Penonton
Pentas Teater Kaplink Bunga Terakhir dan Manajemen Penonton

Pentas Teater Kaplink Bunga Terakhir dan Manajemen Penonton

Teater Kaplink yang merupakan unit kegiatan mahasiswa dari perguruan tinggi terkemuka di Semarang, Universitas Dian Nuswantoro, kemarin mengadakan pementasan panggung yang berjudul Bunga Terakhir. Dari namanya Infonesia sudah bisa menebak tema yang diangkat adalah seputar perjuangan perempuan. Bunga Terakhir yang di sutradarai oleh Angelice, seorang anggota perempuan yang berbakat dan berprestasi, ditantang bagaimana mengolah pementasan ini menjadi apik. Dengan dukungan tim yang solid lahirlah karya Bunga Terakhir yang memiliki tagline Perempuan, Pertempuran, Perjuangan.

Bertepatan dengan akan diperingatinya Hari Kartini, Pementasan ini telah diadakan pada hari Rabu, 12 April 2017 lalu di gedung E lantai 3 Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Panitia tidak pernah mengira antusias penonton terhadap pementasan ini begitu besar. Tiket yang disiapkan hanya 350 lembar ternyata ludes terjual. Karena keterbatasan kapasitas tempat, banyak yang kecewa karena tidak kedapatan tiket. Padahal tim produksi sudah memberikan peringatan pada tiket “Seating is first come, first served”.

Pentas Teater Kaplink Bunga Terakhir dan Manajemen Penonton

Pentas Teater Kaplink Bunga Terakhir dan Manajemen Penonton

Saat pementasan berlangsung, penonton sangat hikmat menyaksikan adegan demi adegan. Penyajian cerita yang ringan, ilustrasi yang harmonis, visual yang menarik membuat penonton terhanyut dalam sajian tersebut. Sepertinya panitia berhasil memanjakan penonton dengan strategi yang berbeda. Terlihat sebelum pementasan pada hari H dilaksanakan, tim kreatif mengundang para seniman, organisasi perempuan di Semarang dan civitas akademika Udinus untuk menonton terlebih dahulu pementasan tersebut, sehingga para undangan bebas memberikan masukan dan kritikan membangun lewat diskusi setelah pementasan.

Tidak bisa dipungkiri penonton merupakan unsur penting dari pertunjukan teater, akan tetapi sebagian besar pelaku pertunjukan teater di Semarang kurang bisa memanfaatkan segmentasi penonton. Dengan strategi yang digunakan oleh Teater Kaplink untuk dapat mengumpulkan para tokoh-tokoh penting sebelum pementasan, diharapkan bisa saling bersilaturahmi, bertukar pikiran, menambah wawasan dan persaudaraan. Sangat disayangkan apabila sebuah pertunjukan dengan jungkir baliknya proses yang hampir 3 bulan, hanya selayang pandang dalam semalam begitu saja. Situasi ini merupakan salah satu problem yang sudah bertahun-tahun belum terjawab. Ironis sekali jika melihat kurang lebih ada belasan teater kampus berdiri di kota Semarang tetapi satupun tidak mampu menggelar pementasan lebih dari 2 kali dalam sebuah proses.

Pentas Teater Kaplink Bunga Terakhir dan Manajemen Penonton

Pentas Teater Kaplink Bunga Terakhir dan Manajemen Penonton

Mengilhami dari pementasan Bunga Terakhir , adanya ikrar persatuan dan kesatuan pemuda pemudi Indonesia. Pemuda pemudi teater di Semarang sepertinya perlu membuat ikrar besama demi tercapainya cita-cita kemajuan teater Semarang. Hatedu #1 Semarang yang diadakan tepat pada Hari Teater Dunia, menjawab kolaborasi antara organisasi teater di Semarang yang bernama Fotkas dan Seratsemar bisa menjadi pemantik untuk terciptanya iklim harmonisasi para pelaku teater Semarang. Apapun cara yang digunakan alangkah lebih baik jika bisa duduk bersama dan saling berkomunikasi.

Pada akhirnya tinggal kemauan dan komitment bersama yang dapat membentuk pondasi paling dasar. Strategi dan managerial yang tepat sangatlah penting demi tumbuh kembangnya kesenian khususnya teater di Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah. Ini merupakan tanggungjawab bersama sebagai warga Semarang terlebih pada pelaku seni di Semarang.

Tentang InfoAdmin

Tukang Info, Indonesia First Map Directory